mathematic education
PENDIDIKAN MATEMATIKA DI INDONESIA
Pendidikan di Indonesia belum
seperti yang diharapkan, karena lembaga–lembaga pendidikan belum mampu
menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Bahkan pendidikan
nasional pun dinilai gagal membangun karakter
bangsa. Hal ini terbukti dari rendahnya nilai hasil ujian nasional, terutama
nilai bidang studi matematika . Padahal
matematika adalah bidang studi yang mendasari semua disiplin ilmu.
Berdasarkan data Institute of Education
(2003), hasil penelitian statistik yang dilakukan secara internasional
dalam Trends in International
Mathematics and Science Study (TIMSS)
menunjukan bahwa Indonesia pada peringkat ke-34 dari 45 negara untuk
penguasaan pelajaran di bidang matematika. Score Indonesia (411) masih berada
di bawah Singapura (605) dan Malaysia (508), tetapi tetap berada di atas
Filipina (378). Dua masalah utama dalam pendidikan matematika di Indonesia adalah rendahnya prestasi siswa (rendahnya daya saing siswa diajang Internasional dan rendahnya nilai rata-rata EBTANAS murni nasional khususnya matematika) serta kurangnya minat mereka dalam belajar matematika (matematika dianggap sulit dan diajarkan dengan metode yang tidak menarik karena guru menerangkan, sedangkan siswa hanya mencatat). Diduga, pendekatan pembelajaran matematika di Indonesia masih menggunakan pendekatan tradisional atau mekanistik. Yang menekankan pada latihan mengerjakan soal atau drill and practice, prosedur serta penggunaan rumus. Siswa kurang terbiasa memecahkan masalah atau aplikasi yang banyak di sekeliling mereka. Sementara itu banyak negara telah mereformasi sistim pendidikan matematika dari pendekatan tradisional ke arah aplication based curricular, yaitu mendekatkan matematika ke alam nyata bagi siswa melalui aplikasi atau masalah kontekstual yang bermakna serta proses yang membangun sikap siswa ke arah yang positif tentang matematika.
Sebagai contoh : Jepang menggunakan “open indeed approach” pendekatan yang menekankan pada soal aplikasi yang memungkinkan banyak solusi dan strategi. United State of America (USA) dengan standar yang dibuat National Council of Teacher Mathematics (NCTM), yakni standar yang terkenal dengan lima keterampilan prosesnya yaitu matematika adalah ‘communication’, ’reasoning’, ’connection’, ’problem solving’, dan ‘understanding’; Belanda mengembangkan ‘RealisticMathematics Education (RME)’ sejak 1970. Pendekatan yang dilakukan oleh ketiga negara tersebut relatif hampir sama seperti: penekanan pada materi aplikasi atau kehidupan sehari-hari, fokus pada keaktifan siswa (student-centered), serta penekanan pada soal yang mempunyai variasi strategi dan solusi.. Atas pertimbangan berhasilnya negara-negara lain dalam meningkatkan mutu pembelajaran matematika, maka pemerintahan Indonesia sejak tahun 1998 mulai mempersiapkan perubahan Kurikulum 1994 menjadi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Secara konseptual, Kurikulum 1994 berbasis pencapaian tujuan (Objective Based Curriculum) dan Kurikulum 2004 berbasis kompetensi (Competency Based Curriculum ) Maksudnya, pendidikan diarahkan untuk membentuk pribadi anak sebagai individu yang mempunyai potensi, bakat